Selasa, 04 November 2014

PEMANFAATAN TIK DALAM BIDANG MANAJEMEN

Banyak sekali manfaat TIK dalam berbagai bidang dalam kehiduapan ini, tak terkecuali di bidang manajemen yang saat ini saya geluti. Manajemen maupun ilmu manajemen tak akan luput dari teknologi, informasi dan komunikasi (TIK). Hal ini dikarenakan TIK merupakan salah satu factor pendukung yang sangat penting peranannya terhadap roda manajemen.

Universitas Narotama misalnya. Universitas Narotama (UNNAR) memanfaatkan TIK dalam pelaksaan kegiatannya. Bukan hanya itu, UNNAR bahkan menjadikan nilai TIK sebagai visi dan misinya yang terpangpang jelas di website resmi Universitas Narotama. Penerapan pemanfaatan TIK dapat kita lihat pada website resmi UNNAR yaitu www.narotama.ac.id
https://lh6.googleusercontent.com/-8w9SjuoYToA/UGl8SfqHbvI/AAAAAAAAAEM/bArlCKiW9a0/w800-h800/narotama+logo.jpg
   
            Universitas Narotama juga memanfaatkan TIK untuk mendekatkan dengan mahasiswanya. Hal ini terlihat dari Simnaro yang memuat data dan info yang diperlukan mahasiswanya secara personal. Juga data, pengumuman dan informasi dari setiap fakultas yang memudahkan masing-masing mahasiswa dari fakultasnya mengakses informasi dan pengumuman seputar fakultas dan prodinya. Salah satunya Fenaro , portal informasi dan pengumuman di fakultas ekonomi
            Dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di bidang ekonomi manajemen, TIK memiliki banyak manfaat hingga pemanfaatannya tersebut diaplikasikan dalam hal-hal berikut ini :

Pemanfaatan TIK dalam Manajemen Bisnis & Manajemen Perusahaan
Bidang Bisnis
Dalam dunia bisnis yang sangat erat kaitannya dengan transaksi jual-beli, pemanfaatan Teknologi Informasi dapat dimanfaatkan pula untuk sarana perdagangan secara elektronik atau dikenal sebagai E-Commerce.

            E-Commerce adalah penyebaran, pembelian, penjualan,  dan jasa elektronik lainnya .E-dagang dapat melibatkan transfer dana elektronik, pertukaran data elektronik, sistem manajemen inventori otomatis, dan sistem pengumpulan data otomatis.

            E-dagang atau E-Commerce merupakan bagian dari E-Business, dimana cakupan E-Business lebih luas, tidak hanya sekedar perniagaan tetapi mencakup juga pengkolaborasian mitra bisnis, pelayanan nasabah, lowongan pekerjaan dll. 
Bidang Perusahaan
Penerapan Teknologi Informasi telah banyak digunakan oleh para usahawan. Kebutuhan efisiensi waktu dan biaya menyebabkan setiap pelaku usaha merasa perlu menerapkan Teknologi Informasi dalam lingkungan kerja. Penerapan Teknologi Informasi menyebabkan perubahan pada kebiasaan kerja. Misalnya penerapan Enterprice Resource Planning (ERP). ERP adalah salah satu aplikasi perangkat lunak yang mencakup sistem manajemen dalam perusahaan.   


Teknologi Informasi dan Komunikasi Bagi Dunia Bisnis

Pemanfaatan TIK di Sektor Bisnis

            Bagi dunia bisnis, jejaring telekomunikasi awalnya digunakan seperti halnya jejaring listrik, distribusi air, dan jejaring utilitas lain. Ini merupakan sumber yang penting, tetapi dulu perusahaan memiliki pengaruh yang kecil. Perusahaan-perusahaan memiliki pilihan yang terbatas atas layanan yang diperoleh dari penyediaan layanan yang dikelola secara monopoli. Hari ini, para pengguna korporat meletakkan bersama keseluruhan jejaring di bawah kontrol mereka, memotong-pintas jejaring publik sebagian atau seenuhnya. Deregulation dan teknologi digital baru telah mengizinkan perusahaan untuk secara sadar merancang dan mengoperasikan jejaring telekomunikasi internal dan privat untuk meningkatkan posisi kompetitif mereka. Apa yang dulunya merupakan biaya untuk menjalankan bisnis, sekarang menjadi sumber keuntungan kompetitif.


            Layanan TIK sekarang digunakan oleh semua sektor ekonomik, mulai dari pertambangan dan pertanian sampai layanan finansial, manufaktur dan kepariwisataan. Jejaring privat ini hadir di semua industri global, di mana perusahaan multinasional menjadi perusahaan jejaring. Para pengguna bisnis berskala besar memiliki kebutuhan akan sistem yang cost-effective, leluasa, aman, automated, terpadu dan terandalkan. Jika para penyedia layanan lokal tidak dapat memenuhi kebutuhan ini, dengan biaya yang masuk akal, perusahaan-perusahaan besar memiliki pilihan untuk mengembangkan sendiri jejaring privat.
Perusahaan multinasional telah dapat mengkoordinasikan produksi dan marketing dengan sistem komunikasi berbasis satelit dengan kapabilitas video-conferencing, untuk tujuan mengkoordinasikan pengembangan produk dan disain manufaktur.

            Perusahaan-perusahaan kecil lebih terbatas kemampuannya untuk mengembangkan jejaring TIK sendiri ataupun untuk menyewa, karena besarnya biaya. Ini menjadi pilihan yang ekonomik hanya jika organisasi tersebut cukup besar untuk menimbulkan cukup trafik untuk menghasilkan penghematan. Oleh karena ini, perusahaan-perusahaan global merupakan pihak-pihak yang pertama yang mengadopsi TIK baru. Sektor-sektor yang sangat bergantung pada TIK mencakup, antara lain perusahaan-perusahaan layanan finansial.

Pada ruang lingkup yang lebih luas, sebagai contoh pada lingkungan bisnis, kehadiran teknologi informasi mulai disadari dapat menghadirkan berbagai solusi yang dapat membantu proses bisnis yang ada. Departemen TI pada sebuah perusahaan mulai dibangun dan secara konstan diminta untuk mengembangkan suatu layanan, mengembangkan suatu sistem, dan mengoptimalkan efesiensi bisnis berbasis teknologi informasi.

Pemanfaatan Teknologi Informasi dalam Upaya Peningkatan Kualitas Manajemen SDM 
Dewasa ini semakin tinggi tuntutan-tuntutan masyarakat akan tata kelola pemerintahan yang baik. Antara lain berupa tuntutan untuk meningkatkan pelayanan publik, seperti pelayanan perpajakan, bea dan cukai, perbendaharaan, kekayaan negara dan sebagainya. Semakin tinggi pula tuntutan pelayanan yang prima terhadap internal customer, yaitu para SDM dan manajemen SDM Departemen Keuangan. 
Pada suatu sisi yang lain ternyata pemanfaatan TIK dalam mendukung belum optimal untuk mendukung Sistem Informasi Manajemen (SIM) SDM walaupun dari sisi jumlah pegawai dan kompleksitas organisasi sudah sangat membutuhkan bantuan implementasi TIK. Saat ini Departemen Keuangan memiliki pegawai cukup besar sejumlah 63.000 orang dan memiliki organisasi birokrasi yang cukup kompleks yang dikategorikan sebagai holding type company karena memiliki 12 unit eselon I yang core business-nya berbeda dan ribuan unit vertikal yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.
Kekurang-optimalan SIM SDM dapat ditengarai dengan ketidakakuratan data pegawai. Pada level Eselon 1 (D-one), dan (D-two) pusat dan daerah, informasi mengenai current status pegawai seringkali tidak akurat sehingga secara agregat apabila data SIMPEG dikumpulkan ke level Departemen Keuangan (Biro SDM) banyak sekali terjadi kekuranglengkapan maupun kekurangakuratan data. Hal ini dapat mengakibatkan pengambilan keputusan yang salah misalnya seperti orang yang sudah meninggal dipromosikan, atau orang sudah pensiun diikutsertakan dalam diklat.
Dampak yang paling terasa adalah kekurangakuratan informasi SDM akan sangat menghambat proses pengambilan keputusan manajemen SDM yang baik. Urat nadi keputusan-keputusan strategis dan operasional dalam perencanaan SDM, rekrutmen, staffing/penempatan, mutasi jabatan, kepangkatan, pengembangan SDM, pendidikan dan pelatihan, remunerasi/benefit, disiplin, dan pensiun bergantung kepada aliran informasi yang akurat.
Untuk memperoleh informasi SDM yang cepat dan akurat diperlukan sebuah sistem informasi manajemen (SIM) yang handal. Seberapa handal sistem informasi yang dimiliki tergantung pada kualitas sub sistem input, pemrosesan, dan penyajian data dan informasi. Untuk membangun system yang handal tidak hanya cukup dengan memperhatikan faktor teknologi, namun juga factor struktur organisasi, business process manajemen SDM itu sendiri, faktor manusia dan budaya kerjanya, dan tentu factor biaya.
Sub-sistem input menangani bagaimana data kepegawaian dapat dikumpulkan dan diorganisasikan. Sub sistem input data kepegawaian harus mampu untuk memastikan setiap unit kerja di Depkeu dari kantor pusat sampai daerah terpencil mempunyai akses ke dalam system baik online maupun off-line untuk mengalirkan data terbaru pegawainya ke database SIMPEG Departemen Keuangan.
Sub-sistem pemrosesan menangani bagaimana data kepegawaian dapat diproses untuk dianalisis. Di dalam proses ini akan muncul beberapa issue yang critical apakah data akan diproses secara terdistribusi atau terpusat, proses online atau offline , atau bahkan secara real-time. Issue di atas perlu untuk dikelola secara tepat agar diperoleh kinerja yang baik dari sistem informasi manajemen SDM Depkeu.
Sub-sistem ini menangani bagaimana data dapat disajikan sebagai informasi yang mendukung proses pengambilan keputusan. Para pengguna (user) dari informasi SDM terbentang secara luas dan dalam dari unit kerja yang membutuhkan data nominatif Kenaikan Gaji Berkala misalnya sampai dengan Pimpinan Departemen yang membutuhkan informasi proyeksi jumlah dan kompetensi SDM untuk semua lini Depkeu. Feedback dari para pengguna data dan informasi amat penting untuk membuat system berkembang secara sehat dan terus-menerus agar perbaikan-perbaikan dapat digunakan untuk menyempurnakan sistem.
Critical objective dari disain SIM untuk mendukung pengambilan keputusan yang efektif adalah bagaimana system dapat mengintegrasikan kemampuan computer dan manusia. Apabila terlalu banyak faktor komputernya maka sistem akan mengarah pada sebuah sistem yang mekanistis, tidak fleksibel, dan pengambilan keputusan yang tidak komprehensif. Sebaliknya apabila desain system dukungan manajemennya terlalu banyak unsur manusianya maka system akan menjadi terlalu lambat dalam merespons, menggunakan data secara terbatas, dan keterbatasan kemampuan untuk menganalisis data secara luas.
Wajah cantik dari perkambangan teknologi informasi adalah kemampuannya untuk mengorganisasi data yang massif dalam sebuah database system secara mudah yang memungkinkan para pengambil keputusan untuk menggali berbagai macam informasi secara dalam dan luas. Data transaksi mutasi kepegawaian sangatlah besar scopenya, dari mulai data penyaringan, seleksi, CPNS/PNS, jabatan, pangkat, diklat, gaji dan remunerasi, penugasan, penghargaan, disiplin, pemensiunan, bahkan keluarga, yang terjadi kapan saja.
Seperti diketahui data SDM bersifat sangat sensitif karena kesalahan record pada satu pegawai dapat menyebabkan rusaknya integritas sistem. Sebagai misal dalam proses Baperjakat diseleksi beberapa kandidat yang bersaing untuk sebuah jabatan. Apabila data terkini pangkat seorang pejabat tidak ada bisa jadi akan mengakibatkan pengangkatan pejabat yang salah walaupun dari segi soft competency calon pejabat yang tidak dipilih tersebut lebih cocok dalam jabatan tersebut.
Secara ideal system harus mampu memmenuhi berbagai kebutuhan informasi yang dibutuhkan para Pembina kepegawaian secara akurat dan tepat waktu. Kualitas informasi yang prima tentu akan memudahkan para Pembina kepegawaian untuk membuat penilaian yang mendalam atas berbagai alternatif pengambilan keputusan kepegawaian. Sekretariat Jenderal Depkeu tentu amat terbantu dalam penyusunan budgeting Anggaran Belanja Pegawai Depkeu apabila terdapat data yang akurat mengenai statistik Depkeu.
Pertanyaan-pertanyaan ‘what-if’ apabila suatu kebijakan kenaikan gaji diimplementasikan dapat dianalisis secara tepat. Pada gilirannya bantuan SIM SDM tadi dapat meningkatkan ketepatan pengambilan keputusan Pimpinan yang pada gilirannya akan meningkatkan kinerja organisasi secara keseluruhan.
Pada akhirnya tidak ada suatu system informasi manajemen yang superior yang secara alami mampu hidup dan tumbuh sendiri. Even sebuah sistem yang cerdas, SIM SDM sebagai sistem rekayasa manusia perlu dirancang, dikembangkan, dan dipelihara secara konsisten dan terus menerus. Mitos bahwa ‘pembelian hardware’ = ‘pembangunan IT’ perlu untuk diluruskan agar tidak terjadi simplifikasi atas sebuagh pembangunan system.
Penelitian atas data panel yang luas dari Prof. C.K. Prahalad dari Massachusetts Institute of Technology menyatakan bahwa kebanyakan kegagalan IT initiative adalah karena terlalu memfokuskan diri pada akuisisi hardware dan software dan tidak secara proporsional memperhatikan factor SDMnya.

Sekian pembahasan mengenai pemanfaatan TIK di bidang manajemen. Semoga bermanfaat.

Daftar Pustaka

Selasa, 21 Oktober 2014

D. Penerapan TIK dalam Pendidikan di Indonesia Indonesia pernah menggunakan istilah telematika (telematics) untuk arti yang kurang lebih sama dengan TIK yang kita kenal saat ini. Encarta Dictionary mendeskripsikan telematics sebagai telecommunication + informatics (telekomunikasi + informatika) meskipun sebelumnya kata itu bermakna science of data transmission. Pengolahan informasi dan pendistribusiannya melalui jaringan telekomunikasi membuka banyak peluang untuk dimanfaatkan di berbagai bidang kehidupan manusia, termasuk salah satunya bidang pendidikan. Ide untuk menggunakan mesin-belajar, membuat simulasi proses-proses yang rumit, animasi proses-proses yang sulit dideskripsikan sangat menarik minat praktisi pembelajaran. Tambahan lagi, kemungkinan untuk melayani pembelajaran yang tak terkendala waktu dan tempat juga dapat difasilitasi oleh TIK. Sejalan dengan itu mulailah bermunculan berbagai jargon berawalan e, mulai dari e-book, e-learning, e-laboratory, e-education, e-library, dan sebagainya. Awalan e bermakna electronics yang secara implisit dimaknai berdasar teknologi elektronika digital. Pemanfaatan TIK dalam pembelajaran di Indonesia telah memiliki sejarah yang cukup panjang. Inisiatif menyelenggarakan siaran radio pendidikan dan televisi pendidikan merupakan upaya melakukan penyebaran informasi ke satuan-satuan pendidikan yang tersebar di seluruh nusantara. Hal ini adalah wujud dari kesadaran untuk mengoptimalkan pendayagunaan teknologi dalam membantu proses pembelajaran masyarakat. Kelemahan utama siaran radio maupun televisi pendidikan adalah tidak adanya feedback yang seketika. Siaran bersifat searah yaitu dari narasumber atau fasilitator kepada pembelajar. Introduksi komputer dengan kemampuannya mengolah dan menyajikan tayangan multimedia (teks, grafis, gambar, suara, dan gambar bergerak) memberikan peluang baru untuk mengatasi kelemahan yang tidak dimiliki siaran radio dan televisi. Bila televisi hanya mampu memberikan informasi searah (terlebih jika materi tayangannya adalah materi hasil rekaman), pembelajaran berbasis teknologi internet memberikan peluang berinteraksi baik secara sinkron (real time) maupun asinkron (delayed). Pembelajaran berbasis Internet memungkinkan terjadinya pembelajaran secara sinkron dengan keunggulan utama bahwa pembelajar maupun fasilitator tidak harus berada di satu tempat yang sama. Pemanfaatan teknologi video conference yang dijalankan dengan menggunakan teknologi Internet memungkinkan pembelajar berada di mana saja sepanjang terhubung ke jaringan komputer. Selain aplikasi unggulan seperti itu, beberapa peluang lain yang lebih sederhana dan lebih murah juga dapat dikembangkan sejalan dengan kemajuan TIK saat ini. SUMBER : Haryanto, Edy. (2008). Teknologi Informasi dan Komunikasi: Konsep dan Perkembangannya. Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi Sebagai Media Pembelajaran
demikian juga di universitas narotama sistem pendidikannya menerapkan TIK,,,anda bisa lihat di
UNIVERSITAS NAROTAMA  atau di
FE